Meski Anda masih newbie dalam olahraga ini, tapi tak perlu bingung memilih perlengkapan badminton Li-Ning. Tautan ini akan membantu Anda menemukan raket terbaik!

_
Atur berdasarkan: Popularitas Harga

Perlengkapan Badminton Li-Ning, Murahnya Tidak Murahan

Bila berbicara produk olahraga, ada banyak merek yang bisa dipilih. Mulai dari merek yang sangat populer hingga merek yang namanya belum pernah didengar. Merek populer biasanya dibarengi dengan banderol harga yang tergolong tinggi. Sedangkan merek yang gaung popularitasnya masih kecil, cukup bersahabat dengan kantong orang awam. Dimana posisi merek seperti Li-Ning?

Perusahaan apparel asal Tiongkok ini didirikan oleh seorang eks atlet gimnastik yang bernama Li Ning. Di dunia gimnastik, ia adalah salah satu atlet legenda. Kegemilangan karir Li Ning terjadi pada tahun 1982, ketika enam dari tujuh medali kejuaraan Piala Dunia Gimnastik berhasil dimenangkannya. Olimpiade tahun 1984 menjadi pencapaian paling klimaks pria ini berkat enam medali yang dipersembahkannya pada Tiongkok dalam cabang serupa.

Pensiun dari ranah gimnastik, pria ini memulai lembaran karir wirausaha dengan mendirikan perusahaan apparel yang diberi nama sama dengan namanya. Meski tidak sepopuler dan jadi pilihan pertama banyak orang, produk peralatan olahraga Li-Ning masih terus beredar di pasaran. Merek ini acapkali dijadikan perlengkapan alternatif ketika produk yang lebih populer harganya melambung tinggi. Di Indonesia sendiri, produk apparel Li-Ning lebih banyak didominasi oleh perlengkapan untuk olahraga badminton.

Raket Li-Ning untuk Jawara Dunia

Jika Anda scroll etalase virtual produk Li-Ning di halaman iPrice Indonesia ini, ada empat jenis perlengkapan utama yang bisa dibeli. Masing-masing yakni sepatu badminton, raket, pakaian hingga tas raket. Jika dibandingkan dengan produk Adidas, Nike ataupun Yonex, price tag Li-Ning masih berada di bawah mereka. Apa lantas harganya mencerminkan kualitas murahan? Aha, jangan salah. Nyatanya, seorang Liliyana Natsir yang juara dunia badminton itu menggunakan salah satu produk Li-Ning, lho!

Butet, panggilan Liliyana, menggunakan raket seri Li-Ning Extra Skill Turbo Charging N7 II Light Badminton Racket pada kejuaraan BWF World Badminton Championships di Glasgow, Skotlandia pada Agustus 2017 lalu. Jika Anda lupa, dalam ajang itu Butet dan Owi (red: Tontowi Ahmad) berhasil keluar sebagai juara setelah mengalahkan pasangan dari Tiongkok.

Berbicara tentang raket edisi khusus ini, Li-Ning menghadirkan rangka yang elastis dan pegangan yang lembut. Secara keseluruhan, fisiknya sangat durable dan sturdy. Meski begitu, bobot raket tetap terasa ringan sehingga membuat pemakainya dapat menghasilkan smash penuh tenaga. Edisi spesial ini juga dilengkapi dengan tanda tangan Butet sendiri. Semacam memorabilia bila Anda mengoleksi raket ini.

Tidak hanya raket edisi khusus untuk Liliyana Natsir, Li-Ning pun pernah memproduksi massal raket edisi khusus Olimpiade Rio de Janeiro yang dipakai pebulutangkis Chen Long. Kala itu, atlet asal Tiongkok ini berhasil menyabet medali emas kategori tunggal putra. Raket tersebut dibuat dengan fitur wind tunnel structure yang mampu meminimalisir lompatan angina sehingga dapat meningkatkan kecepatan shuttle. Raket ini sangat cocok bila gaya bermain Anda condong ofensif. Di iPrice Indonesia, Anda bisa mendapatkan raket ini dengan harga istimewa selama persediaan masih ada.

Tips Memilih Raket Badminton untuk Orang Indonesia

Saat berolahraga, ada satu atau dua peralatan yang wajib dipakai. Pada sepakbola ada sepatu bola. Pada olahraga lari ada sepatu running. Pada basket ada bola basket. Dan di samping shuttlecock, raket adalah kunci utama untuk bermain badminton. Tapi ketahuilah, karakteristik raket tergolong banyak. Raket yang bagus untuk Anda belum tentu cocok untuk orang lain. Berikut panduan umum dalam mengetahui karakter masing-masing raket badminton.

  • Berdasarkan kelenturan gagang raket.

Ada tiga level kelenturan gagang raket yang biasa dipakai untuk badminton. Pertama adalah gagang yang kelenturannya medium. Kelenturan level medium ini mengakomodir pemindahan tenaga yang berpusat pada pergelangan tangan. Pemusatan tenaga itu memberikan daya tolak yang lebih besar saat shuttlecock menyentuh raket. Gagang dengan kelenturan medium ini umumnya cocok untuk tipe pemain bertahan. Level kelenturan selanjutnya yakni stiff. Gagang tipe ini tergolong serbaguna. Anda bisa menggunakannya untuk gaya permainan bertahan maupun menyerang. Level yang terakhir yaitu extra stiff. Gagang tipe ini mampu mengakomodir gerakan tangan yang minimalis namun menghasilkan ketepatan penempatan shuttlecock yang teramat baik. Cocok untuk Anda yang ingin melatih smash, rally dan net kill.

  • Berdasarkan bentuk kepala raket

Kepala raket, atau yang disebut juga sebagai frame, terdiri dari dua tipe utama. Pertama yakni tipe frame konvesional yang cenderung berbentuk oval. Frame ini memiliki titik pukulan yang relatif sedikit sehingga sulit untuk membuat pukulan yang maksimal bila posisi shuttlecock tidak benar-benar tepat. Tipe frame kedua yakni frame isometrik. Berbanding terbalik dengan frame konvensional, tipe isometric menyediakan titik-titik pukulan yang lebih banyak sehingga memudahkan penggunanya untuk memukul dengan maksimal.

  • Berdasarkan bahan raket

Bahan raket pada dasarnya berasal dari material fiber karbon. Dipilihnya bahan ini karena mampu mengakomodir aerodinamika yang bagus sekaligus masih dalam bobot yang ringan. Bahan fiber karbon juga cukup awet, tidak mudah berkarat dibandingan dengan material besi.

  • Berdasarkan berat raket

Secara umum, ada lima tipe raket badminton bila menilik beratnya. Berat raket sendiri ditandai dengan kode “U”. Semakin tinggi nilai “U” maka raket terkait berarti semakin ringan. Juga sebaliknya, raket akan semakin berat jika Anda memilih nilai “U” yang semakin rendah. Berikut penjabaran lima tipe raket badminton berdasarkan beratnya, yakni; U (95-99 gram), 2U (90-94 gram), 3U (85-89 gram), 4U (80-84 gram), 5U (75-79 gram).

NEW