Trend & Panduan

Mengapa E-Commerce Indonesia Belum Mampu Menyelamatkan Angkatan Kerja yang Ada?

12 December 2018 | Tim Riset iPrice

Artikel ini merupakan hasil kajian dari studi iPrice yang menggunakan data premium linkedin untuk mengetahui tren karir di perusahaan e-commerce regional Asia Tenggara.

Lapangan kerja adalah topik sensitif di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Meski pertumbuhan ekonomi negara menanjak, suara-suara gaduh tetap bermunculan bila lapangan kerja tidak mampu menampung semua angkatan kerja. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angkatan kerja Indonesia pada kuartal I 2018 berjumlah 133,94 juta orang, naik 2,39 juta orang dibanding kuartal I 2017. Komponen pembentuk angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja ditambah jumlah pengangguran. Pada kuartal I 2018, sebanyak 127,07 juta orang penduduk bekerja, sedangkan ada 6,87 juta orang menganggur.

Penyerapan angkatan kerja tahun ini masih dominan pada bidang pertanian sebesar 30,46 persen; perdagangan sebesar 18,53 persen; dan industri pengolahan sebesar 14,11 persen. Lalu di mana industri digital? Dewan Pengawas Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) menyebut bahwa penyerapan tenaga kerja industri digital belum cukup membuat perubahan masif. Salah satu alasannya, turunan dari industri ini masih menekankan pada migrasi aktivitas ke platform internet. Jika sebelumnya pekerjaan seperti berdagang dilakukan konvensional secara tatap muka yang mengorbankan jarak, waktu dan tenaga, maka kini pekerjaan itu jadi lebih efektif berkat pemanfaatan internet. Lalu menjamurlah perusahaan dagang dalam talian yang beken dengan istilah e-commerce.

Hanya saja, Google & Temasek dalam laporan riset bulan November lalu menyebut e-commerce Indonesia dan negara-negara di region Asia Tenggara butuh 10% lebih banyak tenaga kerja agar mampu memutar potensi transaksi hingga US$240 miliar pada tahun 2025. Para pemain di marketplace tidak cukup sekadar mengandalkan akselerasi mitra pedagang. Dan meski era otomasi di dunia industri perlahan berkembang melalui wacana industri 4.0, tapi tetap saja ada kerja-kerja ahli berkesinambungan yang musti diperhatikan para pemain industri digital. Artinya, potensi lapangan kerja di tanah air untuk sektor industri digital terbuka cukup lebar, khususnya e-commerce.

Tren Karir E-Commerce di Asia Tenggara

Jika membingkai Asia Tenggara, pertumbuhan tenaga kerja e-commerce sebetulnya memang tergolong tinggi. Mencuplik hasil riset iPrice, penyerapan tenaga kerja dari sektor e-commerce di regional ini meningkat hingga 40,7% dalam dua tahun belakangan. Koefisien ini nyatanya jauh lebih tinggi dari jumlah tenaga kerja perekonomian digital yang diproyeksikan dalam laporan Google & Temasek. Dalam temuan iPrice, penyerapan tenaga kerja paling besar datang dari pemain internasional seperti Lazada dan Shopee. Investasi Lazada pada 6.659 pegawai menjadikannya sebagai e-commerce paling gemuk di wilayah Asia Tenggara.

Tren perekrutan pegawai yang masif ternyata turut mempengaruhi percepatan suatu pemain untuk berkompetisi dengan kompetitornya. Merujuk hasil riset iPrice, Shopee cukup gesit menarik talenta yang benar-benar berpengalaman untuk posisi strategis di sejumlah departemen. Bahkan, penyerapan tenaga kerja di Shopee meningkat hingga 176,8% dibanding tahun 2016. Berkat strategi ini, Shopee mampu memotong gap dan menjadi kompetitor terdekat Lazada di Asia Tenggara.

Sayangnya, ketersediaan talenta merupakan isu elementer yang kerap dihadapi pemain e-commerce lokal untuk bersaing di ranah regional. Bukan cerita baru bila perusahaan Indonesia sulit menemukan talenta yang tepat untuk role pekerjaan di industri digital. Tantangan ini pula yang membuat penyerapan tenaga kerja pada perekonomian digital belum cukup memberi perubahan masif. Padahal seharusnya dengan semakin banyak e-commerce yang tumbuh di Indonesia, maka semakin banyak pula lapangan pekerjaan digital tercipta.

Sinergi Angkatan Kerja dan Lapangan Kerja

Penyerapan tenaga kerja di industri e-commerce tanah air hanya didominasi segelintir pemain lokal. Menilik riset karir e-commerce oleh iPrice, Tokopedia memiliki kuantitas karyawan paling banyak, yakni 2.003 orang; dan Bukalapak sebanyak 1.887 orang. Statistik pegawai perusahaan e-commerce lokal lain belum mampu menembus angka 1000.

Faktor biaya dan efektivitas perekrutan juga ditenggarai menjadi penghambat utama ekspansi talenta sejumlah pemain e-commerce lokal. Dicuplik dari KataData, head hunter biasanya membebankan startup nasional dengan biaya Rp210 juta hingga Rp1,1 miliar untuk merekrut talenta chief level, Rp66-264 juta untuk level senior, Rp25-79 juta untuk menengah dan Rp13-29 juta untuk level junior. Besarnya biaya perekrutan ini lantaran minimnya sumber daya manusia (SDM) yang memenuhi kualifikasi di industri digital. Sedangkan kebutuhan SDM ahli untuk industri ini sedang tinggi-tingginya. Sebagai alternatif, perusahaan lalu menggunakan tenaga kerja asing untuk mengisi pos yang dibutuhkan.

Situasi seperti ini idealnya dapat dibaca lebih awal oleh angkatan kerja Indonesia. Lagipula tren pemerintah yang masih mengutamakan sektor padat karya dapat menepikan potensi pemenuhan lapangan kerja di industri digital. Angkatan kerja juga patut mengaktualiasasi wawasan dan kompetensi agar lebih bersinergi dengan kebutuhan di lapangan pekerjaan. Jika angkatan kerja memiliki wawasan dan kompetensi yang tepat, mereka bisa melakukan penetrasi lebih cekatan di industri digital. Para pelaku e-commerce nantinya pun tidak perlu memusingkan pendekatan pada talenta-talenta baru yang dibutuhkan untuk membangun perekonomian digital di Indonesia.

Memutakhirkan Wawasan

Industri digital yang berkembang sekarang memberi keleluasan pada teknologi untuk berinovasi pada aspek-aspek yang lebih luas. Maka, pekerja masa depan harus sangat fleksibel dan gesit sesuai dengan pasar tenaga kerja baru yang tercipta dari hasil inovasi teknologi. Lalu, bagaimana agar angkatan kerja yang ada sekarang mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja industri digital seperti e-commerce?

  • Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Asing.

Beragam teknologi yang berkembang di industri digital umumnya menggunakan bahasa Inggris untuk operasional umum. Untuk itu, kemampuan ini menjadi hal dasar supaya SDM Indonesia memahami perkembangan teknologi.

  • Kurikulum Pendidikan yang Lebih Relevan.

Sektor industri semacam e-commerce cenderung memadukan keterampilan multi dimensi seperti kreatif, berpikiran analisis, terbuka dengan hal baru juga jiwa entrepreneur. Keterampilan semacam ini bisa dipupuk menggunakan kurikulum pendidikan yang senantiasa relevan dengan perkembangan industri.

  • Mengerti Tentang Jenjang Karir di Industri Digital.

Tidak dipungkiri, industri digital memunculkan banyak istilah profesi baru seperti digital marketer, data scientist, business intelligence, frontend engineer, ataupun backend engineer. Ragam profesi baru ini berpotensi memunculkan kegamangan pada angkatan kerja yang baru pertama kali mengecap dunia digital. Untuk meminimalisirnya, pemahaman tentang jenjang karir di industri digital perlu diberi perhatian khusus. Jika pemahaman sudah terbentuk, maka angkatan kerja akan lebih mudah menemukan karir dan cukup siap menerima karir tersebut.

  • Menyediakan Wadah Transfer Ilmu.

Pemerintah idealnya juga patut mewadahi transfer wawasan di kalangan angkatan kerja. Bisa dalam bentuk sertifikasi atau seminar. Transfer ilmu ini akan meningkatkan kualitas SDM untuk mengarungi industri digital yang bergerak dinamis. Beberapa tahun belakangan ini, orang-orang lanjut usia di Singapura mulai melek internet. Tidak sekadar untuk terhubung di ranah sosial media, mereka juga mulai fasih menggunakan jaringan teknologi tanpa kabel untuk meningkatkan produktifitas harian. Ini tidak lepas dari langkah pemerintah negara itu untuk menjadi smart nation. Hal semacam ini sejatinya juga bisa diterapkan pada angkatan kerja Indonesia. Jika para lansia di Singapura saja bisa memutakhirkan wawasannya, mengapa tidak dengan angkatan kerja Indonesia yang sedang dalam periode usia produktif?

***

Tentang iPrice Group

iPrice Group adalah situs pembanding harga yang beroperasi di Indonesia dan enam negara lain di bagian tenggara Asia, yakni; Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam dan Hong Kong. Secara berkala, iPrice Group juga merilis laporan mendalam mengenai e-commerce, startup dan topik terkait lainnya.

Komentar Pengguna