Trend & Panduan

Gambaran Industri E-commerce Indonesia di Tahun 2019

10 January 2019 | Tim Riset iPrice

Kami di iPrice melihat ada lima aspek yang akan membuat industri ini tetap semarak hingga 12 bulan ke depan.

Google dan Temasek dalam laporannya meyakini pertumbuhan ekonomi digital Indonesia mampu menyentuh angka US$100miliar hingga enam tahun ke depan berkat penetrasi di bidang e-commerce, ride hailing, online travel, dan media daring.

Tapi industri e-commerce Indonesia sudah menunjukkan pertumbuhan signifikan sejak tahun 2018. Ada transaksi uang sebesar US$27miliar yang berhasil diputar via platform daring. Dan catatan ekonomi digital yang menjanjikan itu barulah permulaan karena pelaku e-commerce Indonesia sedang menjalani marathon jarak jauh alih-alih berlari dalam target jarak dekat.

Beberapa pemain e-commerce malah akan mampu berakselerasi makin jauh karena telah mendapat suntikan dana besar dari investor papan atas. Karenanya, industri e-commerce di tahun 2019 masih sangat menjanjikan, khususnya pada 5 aspek yakni kompetisi pemain, produk/servis, metode pembayaran, perilaku konsumen dan marketing/promosi.

1. Kompetisi Pemain

  • Ada lebih banyak pemain baru meramaikan industri e-commerce Indonesia, baik pemain lokal maupun global.

Kilas Balik:

Tahun 2018 adalah musim yang baik bagi dua e-commerce lokal Indonesia, Tokopedia dan Bukalapak. Mereka mampu mendominasi persaingan dari pemain regional (Lazada dan Shopee) di pasar Indonesia sepanjang tahun. Dalam statistik Peta E-commerce Indonesia Q3 2018, Tokopedia mampu menarik rerata 153.639.700 pengunjung ke situsnya setiap bulan. Bukalapak mendapatkan 95.932.100 pengunjung web per bulan. Penetrasi e-commerce lokal ini juga berhasil masuk dalam lima besar platform dagang online paling banyak dikunjungi di regional Asia Tenggara.

Sedangkan, Lazada dan Shopee menjadikan pasar Indonesia sebagai sumber traffic web utama yang mendongkrak dominasi mereka di level regional e-commerce Asia Tenggara.

Prediksi:

Tahun ini akan lebih banyak pemain yang mencoba peruntungan di industri e-commerce tanah air karena telah mengamankan sejumlah pendanaan untuk memperkuat kegiatan operasional startup terkait di dalam industri. Mengutip Dailysocial, ada 8 pendanaan baru untuk startup lokal di sektor e-commerce yang terjadi pada tahun lalu. Jumlah ini belum termasuk pada pendanaan yang mampu diamankan startup unicorn seperti Tokopedia, Gojek, atau Traveloka.

Penambahan pemain di e-commerce tak semata datang dari perusahaan lokal. Pasar digital Indonesia yang begitu besar tidak dipungkiri menarik perhatian pemain global. Lazada, Shopee, JD, Zalora sudah membuktikannya. Maka, bukan tidak mungkin ada pemain global seperti Amazon atau Walmart berekspansi ke Indonesia dalam tahun ini.

Baca Juga: Kilas Balik E-commerce di Indonesia Tahun 2018

Amazon sendiri telah lama digadang-gadang akan terjun ke dalam pasar tanah air. Terlebih semenjak petingginya bertemu Presiden Joko Widodo dan Menteri Sri Mulyani pada pertengahan 2018. Dikutip dari Kontan, Amazon disebut sudah menyelesaikan hal-hal teknis semacam perpajakan. Hanya, hingga berakhirnya tahun 2018 masih belum ada pergerakan baru dari perusahaan e-commerce dunia itu di Indonesia.

2. Produk dan Servis E-commerce

  • Pemain e-commerce di bidang otomotif semakin menggeliat.
  • Toko fisik kembali populer untuk melengkapi pengalaman berbelanja masa kini di e-commerce.

Kilas Balik:

Awalnya situs marketplace diisi oleh produk elektronik atau fashion. Tapi belakangan ini para pemain e-commerce turut menghadirkan produk digital seperti pulsa internet, layanan pembayaran online untuk kebutuhan rumah tangga (listrik, air, BPJS), hingga produk transportasi seperti tiket bus dan tiket pesawat. Singkatnya, pemain e-commerce berlomba menyediakan varian produk yang lebih luas untuk para konsumen mereka.

Selain produk, pemain e-commerce juga menghadirkan servis belanja secara fisik demi meningkatkan kepuasan belanja konsumen. Laporan Business Insider menyebut bahwa Amazon, Alibaba, dan JD.com menjadi yang terdepan untuk menghadirkan kembali toko fisik dalam aktivitas belanja orang-orang. Di Indonesia, JD membuat inovasi dengan membuka toko fisik berkonsep tanpa kasir dan cashless bernama JD.ID X untuk memberi pengalaman berbelanja yang berbeda pada konsumen.

Prediksi:

Perluasan jenis produk yang dijual juga berpeluang terjadi kembali pada tahun ini seiring kemunculan pemain e-commerce di bidang otomotif yang menawarkan kemudahan dalam mencari kendaraan bermotor. Sejumlah situs seperti Carmudi, Mobil123 dan Garasi.id telah memulainya sejak tahun lalu. Mengacu pada SimilarWeb, Carmudi dan Mobil123 malah sudah mampu mendulang lebih dari 3 juta kunjungan web setiap bulannya.

Langkah pelaku e-commerce dalam membuka toko fisik juga patut dicermati di masa mendatang. Konsep layanan omnichannel ini sejatinya tidak hanya menghadirkan pengalaman belanja futuristik untuk konsumen.

Baca Juga: Produk Digital yang Bisa Didapat di Toko Online

Dengan adanya lebih banyak channel (online dan offline) interaksi, retailer berpeluang mendapat data lebih spesifik tentang apa yang diinginkan konsumen hingga level personal demi penjualan produk yang relevan. JD sudah melakukannya di Indonesia, selanjutnya kita tinggal menunggu inovasi Alibaba melalui Lazada dan Tokopedia mengenai toko fisik ini.

3. Metode Pembayaran

  • Pembayaran menggunakan uang digital semakin populer di berbagai bidang, terlebih e-commerce.

Kilas Balik:

Evolusi metode pembayaran ketika berbelanja jelas telah terjadi di Indonesia seiring semakin banyak orang menggunakan layanan e-money alias uang elektronik. Dari catatan Bank Indonesia, volume transaksi uang elektronik sepanjang Januari-September 2018 meningkat empat kali lipat dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya. Nilai transaksinya juga naik lebih dari empat kali lipat dari Rp7,5 triliun menjadi Rp31,6 triliun.

Migrasi besar-besaran menuju cashless dimulai ketika penyedia layanan transportasi mengenalkan saldo pra-bayar berbentuk kartu untuk membayar ongkos kendaraan umum. Setidaknya ada tiga keuntungan yang membuat banyak orang beralih ke uang elektronik, yakni mudah digunakan, adanya potongan harga, dan tidak perlu memusingkan ketersediaan uang pas. Popularitas pembayaran menggunakan uang digital masih dipegang oleh layanan aplikasi berbasis mobile yang mampu menunjang transportasi dan kebutuhan F&B seperti OVO, Go-Pay dan T-Cash.

OVO sejatinya adalah pembayaran digital terpadu berkonsep open platform yang awalnya tidak berfokus pada transportasi. Tapi sejak menyediakan pembayaran digital untuk Grab, pertumbuhan pengguna OVO meningkat signifikan. Mengutip Kompas.com, catatan unduhan aplikasi OVO sudah berkisar hingga 115 juta. Meningkat 400% sejak pertama beroperasi pada November 2017.

Prediksi:

Selain transportasi dan F&B, tren pembayaran digital di e-commerce akan semakin populer dipilih banyak orang untuk menyelesaikan transaksi belanja. Baru-baru ini, pembayaran digital bernama DANA yang dirintis EMTEK dan Alipay Indonesia bermitra dengan Bukalapak untuk aspek pembayaran. OVO juga baru merampungkan kerjasama dengan Tokopedia untuk bagian pembayaran digital.

Baca Juga: Panduan Produk E-wallet untuk Belanja Online

Akan banyak perusahaan fintech sejenis menawarkan produk e-money mereka untuk mempermudah proses transaksi digital di platform e-commerce. MDI Ventures dan Mandiri Capital memperkirakan peningkatan di ranah uang elektronik masih akan berlanjut tahun ini dan mencapai transaksi kotor hingga US$30miliar pada tahun 2020.

4. Perilaku Konsumen

  • Ketergantungan pada ponsel pintar akan meningkat seiring banyaknya layanan berbasis aplikasi yang mengakomodir kebutuhan sehari-hari.

Kilas Balik:

Google & Temasek mengungkap bahwa sebanyak 94% pengguna internet di Indonesia datang dari pengguna smartphone. Dan 68% di antaranya adalah konsumen belanja online yang mengandalkan smartphone untuk mencari informasi tentang produk yang akan dibeli.

Jumlah pencarian untuk merek smartphone murah juga meningkat 2 kali lebih banyak dari tahun sebelumnya. Dari data yang dikumpulkan dari Lazada pada gelaran Singles’ Day silam, perangkat seluler smartphone dan tablet nyatanya juga menjadi produk yang paling banyak dibeli orang di Indonesia.

Prediksi:

Ke depannya, ketergantungan pada ponsel pintar akan terus meningkat. Alasannya pertama, semakin banyak layanan berbasis aplikasi yang mengakomodir kebutuhan sehari-hari. Tidak hanya untuk transportasi dan membeli makanan, layanan berbasis aplikasi juga semakin jamak dipakai untuk membayar tagihan rumah tangga dan pemenuhan kebutuhan anak. Alasan kedua, mayoritas konsumen di Indonesia masih menjadikan smartphone sebagai pencarian utama ketika berbelanja online.

Melihat data Lazada tentang perilaku konsumen, tingginya ketertarikan pada smartphone juga masih akan berlanjut pada tahun ini, terutama saat festival belanja musiman seperti Ramadan, Singles’ Day, dan Harbolnas.

Jika mengamati interest over time pengguna internet dalam hal berbelanja online setahun belakangan, orang-orang juga mempertimbangkan kualitas ketika mencari barang yang diinginkan di internet. Mengacu pada Google Trends, kata kunci “bagus” memperlihatkan grafik peningkatan dalam periode gelaran festival belanja akhir tahun seperti 11.11 dan Harbolnas.

Baca Juga: Menafsir Perilaku Belanja Online Akhir Tahun 2018

Meski tergolong dini untuk disimpulkan, tapi gejala ini memperlihatkan bahwa orang-orang tidak lagi sekadar mengharapkan barang murah ketika belanja online. Mereka menjadi lebih telaten memilih produk yang bagus dan berkualitas untuk kemudian dibeli ketika momen-momen festival belanja yang menyediakan potongan harga lebih signifikan.

5. Marketing/Promosi

  • Personalized marketing jadi tren baru untuk mendekatkan konsumen dengan e-commerce dan produk yang disediakan.
  • Pelaku e-commerce akan mengurangi porsi promosi diskon dan potongan harga yang eksplisit, menggantinya dengan promosi interaktif seperti permainan di aplikasi mobile.

Kilas Balik:

Ada dua sorotan pada aspek marketing dan promosi e-commerce tahun lalu. Pertama adalah penerapan personalized marketing. Bukalapak sudah mengaplikasikan pola personalized marketing dalam konten bernama Kilas Balik setiap akhir tahun. Perusahaan e-commerce ini menginformasikan pelanggannya dengan aktivitas apa saja yang telah dilakukan di platformnya. Tak hanya di e-commerce, personalized marketing juga diadopsi oleh Spotify, Gojek, dan Grab agar pelanggan mereka merasa dekat dengan masing-masing merek.

Sorotan kedua adalah mengenai fitur permainan di aplikasi e-commerce. Di penghujung tahun lalu, e-commerce seperti Lazada, Shopee, Bukalapak dan Tokopedia menghadirkan fitur permainan shake untuk mengumpulkan poin diskon di dalam aplikasi mobile mereka. Pada jam-jam tertentu, pengguna akan diminta menggoyangkan ponsel untuk mendapatkan sejumlah diskon. Fungsi marketing di balik permainan interaktif semacam ini adalah untuk merangsang aktivitas konsumen yang lebih intens di platform e-commerce.

Prediksi:

Pola marketing yang lebih personal (personalized marketing) pada konsumen akan menjadi andalan lebih banyak pemain e-commerce untuk menjaga kedekatan dengan konsumen. Bermodal analisis catatan data aktivitas penggunanya dalam satu rentang periode, pelaku e-commerce menyajikan konten statistik yang dikemas kreatif agar selaras dengan karakteristik dan interest pengguna. Entah itu tentang produk kesukaan, gaya berbelanja, ataupun perilaku lainnya.

Bila tahun 2018 terbilang penuh oleh gelaran diskon, maka kami memprediksi akan ada penurunan porsi diskon untuk promosi produk di sejumlah e-commerce. Terlebih e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia yang giat melakukan penetrasi untuk menarik pengguna baru di tahun 2018.Manuver Bukalapak di tahun sebelumnya bisa jadi refleksinya.

Startup ini sangat giat “membakar uang” untuk alokasi promosi berupa diskon di tahun 2017 demi menggaet pelanggan. Setahun setelahnya, Bukalapak lebih fokus menjaga brand awareness dan keterikatan dengan konsumen melalui porsi promosi iklan di televisi. Nielsen mencatat, total belanja iklan Bukalapak di televisi yakni Rp 368,5 Miliar,tumbuh sebesar 403 persen dibanding tahun sebelumnya. Jikapun ada diskon, para pelaku e-commerce akan lebih konsisten mengemasnya dalam fitur permainan.

Baca Juga: Tips Memproduksi Konten di Era Digital untuk Startup

Fitur permainan pada aplikasi mobile e-commerce diperkirakan akan semakin jamak diduplikasi karena mampu memupuk engagement dan kenyamanan pengguna. Inovasi pada aplikasi mobile memang sangat krusial karena temuan Katadata menunjukkan bahwa sebagian besar pengguna e-commerce lebih banyak menggunakan platform mobile untuk bertransaksi.

***

Tentang iPrice Group

iPrice Group adalah situs pembanding harga yang beroperasi di Indonesia dan enam negara lain di bagian tenggara Asia, yakni; Malaysia, Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam dan Hong Kong. Secara berkala, iPrice Group juga merilis laporan mendalam mengenai e-commerce, startup dan topik terkait lainnya.

Komentar Pengguna