[Analisis] Bagaimana Cara Perusahaan E-commerce Indonesia Mendapat Pemasukan?

20 February 2019 | Aldo Fenalosa

Pemasukan perusahaan e-commerce tidak saja berasal dari funding dan komisi transaksi atas produk yang dibeli konsumen.

Pemahaman Terkini Tentang Pemasukan Perusahaan E-commerce

Mungkin kita beranggapan pemasukan perusahaan e-commerce didapat dari gelontoran investasi oleh pemodal internasional. Contohnya belakangan ini Tokopedia mendapat suntikan dana dari Softbank dan Alibaba, Bukalapak dengan investor Mirae Asset-Naver Asia Growth Fund, maupun Blibli dengan GDP Venture.

Mungkin juga kita mengira bahwa pendapatan perusahaan tadi berasal dari sejumlah komisi atas transaksi yang berhasil didapat penjual masing-masing platform. Sebab, ada banyak pedagang online menggunakan platform e-commerce untuk berjualan. Tokopedia mengklaim bahwa ada 5 juta merchant hingga akhir 2018. Baru-baru ini Presiden Jokowi memberi bocoran bahwa ada 4 juta pelapak di Bukalapak.

Tapi perusahaan e-commerce sebenarnya tidak saja menggantungkan pemasukan pada dua hal tadi. Ada kanal lain yang mereka gunakan untuk mendapat pemasukan signifikan. Kanal-kanal ini terkadang tidak kasatmata bagi kebanyakan orang. Karenanya, artikel ini akan membantu Anda untuk mengetahui lebih lanjut tentang itu.

Dengan metodologi komparatif, kami mengakses, mengumpulkan, dan menganalisis tipe produk & layanan berbayar dari 5 perusahaan e-commerce terpopuler di Indonesia versi Map of E-commerce Q4 2018 milik iPrice. Kami juga sertakan hasil analisis dalam bentuk infografis di bagian bawah artikel ini.

Kanal Pemasukan Perusahaan E-commerce di Indonesia

Di bagian awal kita sudah sempat menyinggung tentang dua sumber pemasukan perusahaan e-commerce, yakni suntikan modal dan komisi/kompensasi dari mitra bisnis. Suntikan modal didapat bila perusahaan mampu mempresentasikan potensi usaha dan potensi sumber daya manusia yang mengelola usaha itu.

Komisi umumnya didapat perusahaan dari setiap transaksi produk yang berhasil terjual. Sistem komisi ini sejatinya sudah sejak lama eksis di dalam perdagangan konvensional. Semakin banyak pembeli yang membeli produk di suatu platform, maka semakin banyak komisi yang didapat perusahaan.

Tapi seiring waktu, perusahaan e-commerce juga berupaya mendapatkan pemasukan dari pihak pedagang, meski banyak pembeli yang berkunjung dan membeli barang di situs perusahaan itu.

Jadi, apa penjual harus membayar perusahaan e-commerce agar bisa menggunakan platform terkait? Tidak juga. Banyak perusahaan e-commerce tetap membebaskan pedagang untuk berjualan di platform mereka tanpa perlu memikirkan biaya opersional, alias gratis.

Lalu bagaimana caranya perusahaan menggantungkan pemasukan dari pedagang bila semuanya gratis? Caranya yakni, perusahaan itu menawarkan beragam layanan berbayar yang membantu pedagang agar lebih cepat untung. Layanan inilah yang menjadi kanal pemasukan bagi perusahaan e-commerce.

Di samping itu, perusahaan e-commerce turut memonetisasi uang dari beragam produk non-fisik dan jasa pengiriman yang dibutuhkan pembeli.

Berikut daftar 7 kanal monetisasi perusahaan e-commerce:

  • Keanggotaan Berbayar
  • Produk Bersponsor
  • Keanggotaan Toko Resmi
  • Jasa Pembuatan Konten
  • Workshop Berbayar
  • Jasa Pengiriman
  • Produk Digital

Kanal pertama yang jamak diberdayakan perusahaan e-commerce dalam mendapat pemasukan dari penjual adalah fitur keanggotaan berbayar. Penjual dapat menikmati sejumlah fitur premium untuk memaksimalkan aktivitas di tokonya dengan mendaftar keanggotaan berbayar. Mulai dari penataan tampilan toko, pengelolaan produk, statistik penjualan, kuota etalase produk lebih banyak, hingga pemilihan strategi penjualan agar produk jadi lebih laku. Fitur keanggotaan berbayar ini jamak dihadirkan oleh perusahaan e-commerce, meski dalam praktiknya hadir dengan nama yang berbeda-beda.

Kedua yaitu fitur produk bersponsor. Fitur ini menyediakan iklan/promosi opsional yang dapat ditambahkan penjual untuk mengelola toko online tanpa perlu terlebih dulu berlangganan keanggotaan berbayar di suatu platform e-commerce. Umumnya, layanan ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan anggaran penjual.

Ketiga yakni keanggotaan toko resmi. Beberapa platform e-commerce sengaja menyediakan halaman toko resmi ala mal virtual agar pembeli merasa aman dan nyaman berbelanja produk berkualitas dan orisinal layaknya di sebuah pusat perbelanjaan yang riil.

Toko resmi tidak hanya berupa merek-merek terkenal seperti di pusat perbelanjaan konvensional. Penyedia platform e-commerce turut membuka keanggotaan berbayar untuk para penjual biasa agar bisa menaruh produk mereka di halaman eksklusif. Keanggotaan toko resmi ini dibatasi pada penjual yang memiliki merek resmi dan menjual barang orisinal.

Manfaat utama bergabung dalam mal virtual yakni pedagang mendapat keistimewaan untuk memajang toko di halaman khusus yang didesain eksklusif agar pembeli lebih mudah menemukan toko yang dimaksud.

Kanal keempat yaitu dari jasa pembuatan konten untuk penjual yang ingin etalase tokonya terlihat profesional. Jasa pembuatan ini meliputi konten teks, foto produk, perancangan etalase toko, hingga teknis SEO.

Perusahaan e-commerce yang menyediakan layanan ini paham betul bahwa tidak semua penjual punya kemampuan memadai untuk mempresentasikan produk dalam bentuk teks dan visual.

Terlebih, etalase toko online masa kini tidak lagi semata mengandalkan kuantitas produk. Karenanya, konten yang rinci tentang suatu produk sangat mempengaruhi keputusan pembelian ketika bertransaksi online.

Kanal kelima yakni workshop berbayar. Perusahaan e-commerce menawarkan workshop berkala yang bisa diikuti pedagang untuk mempelajari berbagai strategi ahli demi meningkatkan penjualan.

Kanal keenam adalah jasa pengiriman. Sejumlah perusahaan e-commerce tidak lagi membatasi bisnis pada elemen penjualan, tapi juga meluaskan cakupan pada layanan ekspedisi barang. Dengan adanya jasa pengiriman yang dikelola sendiri, sebuah perusahaan dapat mengoptimalkan waktu dan biaya transportasi untuk distribusi barang ke konsumen.

Kanal ketujuh yakni dengan berjualan produk digital. Produk digital tidak memerlukan wujud fisik dan biasanya dijual melalui perantara platform internet. Produk tipe ini juga tidak memerlukan layanan ekspedisi untuk sampai ke alamat pembeli.

Ada beragam produk digital yang dijual perusahaan e-commerce, mulai dari pulsa, saldo uang elektronik, tiket transportasi, tagihan rumah tangga, asuransi kesehatan, hingga instrumen investasi seperti reksa dana.

Kanal Monetisasi yang Digunakan Masing-masing Perusahaan E-commerce

Nah, apa semua layanan berbayar ini benar-benar dipakai perusahaan e-commerce untuk memonetisasi pendapatan dari pedagang dan pembeli yang ada di platform mereka? Mari kita lihat pada 5 perusahaan e-commerce terpopuler versi Map of E-commerce di Indonesia.

1. Tokopedia

Tokopedia menawarkan fitur keanggotaan berbayar bernama Power Merchant. Fitur ini memungkinkan pedagang untuk mengelola toko dengan maksimal dan mendapat lebih banyak pengunjung. Biaya langganan untuk fitur ini dimulai dengan harga Rp199 ribu per bulan.

Selain keanggotaan berbayar bernama Power Merchant, Tokopedia juga menggunakan fitur Add-on service bernama TopAds. Ketika digunakan, fitur ini akan menampilkan toko beserta produk terkait di urutan paling atas halaman pencarian dan sejumlah halaman strategis lain yang disediakan Tokopedia. Fitur TopAds juga memungkinkan penjual untuk mempromosikan jualannya di sosial media melalui saluran affiliate marketing.

Penjual hanya perlu membeli kredit/saldo dalam jumlah yang dibutuhkan untuk menggunakan TopAds. Pembiayaan TopAds ini sendiri dibedakan atas dua tipe. Tipe pertama yakni berdasarkan iklan produk per klik, di mana kredit hanya akan terpotong jika iklan diklik calon pembeli. Tipe kedua yakni berdasarkan iklan produk affiliate marketing, di mana penjual hanya perlu memberi komisi dari kredit jika berhasil dijual oleh affiliate.

Tokopedia menggunakan keanggotaan toko resmi bernama Official Store untuk memotisasi pemasukan dari pedagang. Ada sejumlah syarat yang harus dipenuhi untuk bergabung dalam fitur ini. Misalnya, penjual harus memiliki merek toko resmi atau lisensi penjualan resmi suatu produk. Hanya saja, Tokopedia tidak membuka secara rinci terkait biaya yang dibebankan untuk bergabung dalam fitur ini.

Terakhir, perusahaan e-commerce ini menggunakan jualan produk digital sebagai kanal monetisasinya. Ada 7 tipe produk digital yang dimiliki Tokopedia, meliputi tagihan rumah tangga, tiket transportasi, tiket hiburan, voucher digital, tagihan kesehatan, hingga e-money. Bahkan produk digital yang tidak populer seperti instrumen investasi berupa reksa dana, pinjaman dana online, dan emas turut ditawarkan Tokopedia untuk memberdayakan kebutuhan konsumen.

2. Bukalapak

Ada 3 cara Bukalapak memonetisasi pemasukan dari pedagang. Cara pertama yakni menerapkan keanggotaan berbayar yang dinamai Premium Account. Keanggotaan berbayar ini terdiri dari tiga pilihan paket premium yang disesuaikan dengan kebutuhan, yakni paket premium basic (Rp75 ribu per bulan), professional (Rp225 ribu per bulan), ataupun platinum (Rp500 ribu per bulan).

Cara monetisasi kedua yakni melalui fitur Add-on bernama Promoted Push dan BukaIklan. Pelapak bisa menentukan sendiri anggaran atas kebutuhan fitur ini. Dilansir dari kanal tanya jawab Pelapak Bukalapak, fitur Promoted Push berfungsi untuk menampilkan barang jualan pelapak pada area khusus bertanda Promoted Product yang terdapat pada halaman pencarian barang. Harga fitur ini berpatok pada per klik, yang mana minimal per kliknya dihargai Rp200 dan harga per klik maksimalnya sebesar Rp10 ribu.

Sedangkan BukaIklan adalah fitur promosi yang memanfaatkan platform iklan Google Shopping Ads. Pembayaran fitur ini menggunakan sistem bayar-per-klik. Anggaran iklan baru akan dipotong ketika ada pengguna Google yang mengklik iklan si pedagang. Bukalapak mengklaim fitur ini lebih mudah digunakan dibandingkan jika berlangganan langsung pada Google Shopping Ads karena pedagang tidak perlu berurusan dengan hal teknis.

Cara monetisasi ketiga yakni dengan menyediakan fitur toko resmi bernama BukaMall. Semua pedagang berkesempatan untuk bergabung dalam ekosistem BukaMall yang diisi oleh merek-merek resmi. Hanya saja, pedagang yang berminat menggunakan fitur ini harus dapat memenuhi sejumlah persyaratan yang diajukan Bukalapak.

Sama halnya dengan Tokopedia, salah satu syarat utama menjadi pedagang di BukaMall yakni harus memiliki merek toko resmi atau lisensi penjualan resmi suatu produk. Selain itu, pedagang juga harus berlangganan keanggotaan Premium Account terlebih dulu. Setiap transaksi dari Bukamall akan dikenakan biaya komisi antara 3-10% sesuai dengan kategori barang yang dijual.

Monetisasi terakhir yang dilakukan Bukalapak yaitu melalui penawaran produk digital. Strategi Bukalapak juga tergolong sama dengan Tokopedia yang menghadirkan begitu banyak tipe produk digital. Mulai dari produk digital paling sederhana seperti pulsa hp sampai produk digital untuk kebutuhan spesifik seperti zakat, BPJS, dan tagihan kendaraan bermotor. Secara keseluruhan, Bukalapak memiliki 7 tipe produk digital yang meliputi tagihan rumah tangga, tiket transportasi, tiket hiburan, voucher digital, tagihan kesehatan, e-money, hingga instrumen investasi berupa BukaReksa dan BukaEmas.

3. Shopee

Berbeda dengan dua perusahaan e-commerce sebelumnya, Shopee saat ini masih belum menerapkan keanggotaan berbayar pada penjual di platformnya. Tapi, perusahaan ini menggunakan empat jenis monetisasi, yakni dengan fitur IklanKu, Shopee Mall, jasa pengiriman, dan produk digital.

Secara garis besar, IklanKu tergolong ke dalam fitur Add-on service berupa iklan berbayar yang memungkinkan pedagang untuk melakukan penawaran pada bagian keyword produk yang ingin ditargetkan. Biaya penawaran keyword di Shopee mulai dari Rp50. Semakin tinggi penawaran, maka akan semakin tinggi posisi tampilan produk. Pembiayaan fitur ini sendiri menggunakan biaya per klik, menyerupai TopAds dan BukaIklan. Misalnya, ketika calon pembeli mengetikkan keyword “sepatu futsal” maka produk yang ditampilkan duluan adalah produk-produk sepatu futsal yang menggunakan fitur IklanKu.

Fitur kedua yang dipakai Shopee untuk monetisasi yakni melalui halaman toko resmi bernama Shopee Mall. Fitur ini dikhususkan untuk produk eksklusif dari merek dan peritel resmi. Shopee memberlakukan biaya administrasi pada pedagang/merek yang tergabung dalam Shopee Mall. Biaya administrasi ini berkisar dari 0.5% & 1.5%, bergantung pada kategori produk.

Fitur ketiga yakni jasa pengiriman. Shopee membuat jasa pengiriman sendiri bernama Shopee Express agar dapat menangani langsung distribusi barang yang dibeli kosumen.

Terakhir, Shopee juga menyediakan produk digital untuk memenuhi keperluan konsumen. Saat ini Shopee menyediakan produk digital untuk tagihan rumah tangga dan voucher digital yang meliputi pulsa, paket data, tagihan PLN, BPJS, PDAM, Telkom, voucher game & streaming.

4. Lazada

Metode monetisasi Lazada terdiri atas enam bentuk. Bentuk pertama berupa sponsored product alias produk bersponsor. Fitur ini memungkinkan pedagang untuk mempromosikan produk pada halaman deskripsi etalase toko penjual lain. Skema tarif fitur ini berpatokan pada biaya per klik. Penjual pun dapat menganggarkan sendiri saldo yang dibutuhkan untuk menggunakan fitur ini.

Bentuk kedua berupa fitur layanan produksi konten untuk operasional bernama Lazada Service Marketplace. Fitur jasa yang disediakan bersama pihak ketiga ini bervariasi dari produksi fotografi & video produk, desain toko, pinjaman modal usaha, sistem manajemen toko, hingga layanan chat yang melayani pengunjung toko.

Bentuk ketiga yakni melalui pengadaan workshop berbayar untuk pedagang. Lazada secara berkala menggelar kelas berbagai ilmu antara trainer dengan pedagangnya agar dapat mengoptimalkan bisnis online lebih maksimal di platform e-commerce tersebut. Workshop berbayar itu bernama Lazada Academy.

Bentuk keempat yakni halaman toko resmi bernama LazMall. Seperti kebanyakan toko resmi, LazMall juga diisi oleh merek-merek yang sudah sesuai syarat tertentu dan kredibel. Bentuk kelima adalah jasa pengiriman yang bernama Lazada Express. Terakhir, Lazada juga menggunakan jualan produk digital untuk memonetisasi uang pemasukan. Saat ini fokus produk digital Lazada adalah voucher digital seperti paket data.

5. Blibli

Sejak awal beroperasi, Blibli konsisten mengambil keuntungan berupa komisi dari transaksi yang berhasil terjadi antara pedagang dan pembeli. Dilansir dari BeritaSatu.com, komisi itu ditarik setiap dua minggu sekali dari pedagang. Tapi bukan berarti Blibli hanya mengandalkan komisi sebagai kanal monetisasi. Ada tiga kanal pemasukan lain yang juga dimonetisasi perusahaan e-commerce ini.

Kanal pertama yakni melalui toko resmi bernama Blibli Official Stores. Toko resmi yang ada di halaman eksklusif ini berasal dari beragam kategori, mulai dari elektronik, kebutuhan ibu dan anak, olahraga, hingga fashion.

Kanal kedua adalah jasa pengiriman bernama Blibli Express Service. Sistem logistik mandiri ini berintegrasi dengan 5 gudang dan 14 hub milik Blibli. Sedangkan kanal ketiga yakni produk digital. Ragam produk digital Blibli terdiri dari tagihan rumah tangga, tiket transportasi, tiket hiburan, voucher digital, dan e-money.

Temuan Menarik

Pertama, Lazada menjadi perusahaan paling intensif memonetisasi uang melalui optimisasi di enam kanal. Tidak hanya mengandalkan layanan online seperti produk bersponsor, toko resmi dan produk digital, tapi Lazada juga menyentuh layanan offline seperti jasa pembuatan konten, workshop berbayar, jasa pengiriman.Ada lima benang merah yang dapat kita tarik dari penjabaran metode monetisasi perusahaan e-commerce di atas.

Kedua, Blibli menjadi yang paling pasif dalam hal monetisasi pemasukan. Di luar sistem komisi dari toko dan merek terdaftar, perusahaan e-commerce khusus fashion ini praktis hanya mengandalkan layanan jasa pengiriman, produk digital, dan toko resmi.

Ketiga, layanan produk digital dan toko resmi jadi pilihan yang sangat populer bagi perusahaan e-commerce dalam mendatangkan uang. Fitur produk bersponsor juga jamak digunakan perusahaan e-commerce untuk monetisasi.

Keempat, metode workshop berbayar dan pembuatan konten masih tergolong asing dipakai perusahaan e-commerce untuk mendulang pemasukan. Baru Lazada yang berani mencoba ranah ini melalui program Service Marketplace dan Lazada Academy yang merangkul komunitas penjual.

Kelima, perusahaan e-commerce turut mempertimbangkan keberadaan sistem pengiriman mandiri meski saat ini ada banyak perusahaan logistik yang membantu distribusi produk mereka. Buktinya Blibli, Lazada, dan Shopee perlahan mulai menangani distribusi melalui tim mereka sendiri.

Komentar Pengguna