E-Wallet Lokal Masih Mendominasi Q2 2019-2020

12 August 2020 | Vivin Dian Devita

For English version please click here.

1. Dominasi pemain lokal di E-Wallet Indonesia

Berdasarkan data sebelumnya rangking e-wallet di Indonesia juga didominasi oleh pemain lokal. Hai ini bisa dikaitkan dengan suksesnya promosi dan campaign yang dilakukan oleh pengembang e-wallet Indonesia dan dukungan dari pemerintah dalam membawa Indonesia untuk lebih menjadi cashless society.

GOPAY, OVO, Dana dan LinkAja merupakan 4 e-wallet dengan jumlah pengguna aktif bulanan terbanyak selama periode Q2 2019- Q2 2020. Untuk aplikasi dengan total download terbanyak juga diduduki oleh keempat pemain tersebut GOPAY, OVO, Dana dan LinkAja.

Sejalan dengan banyaknya pengguna aktif dari keempat pemain ini, Ipsos juga melakukan riset mengenai ketenaran dari masing masing dominan player e-wallet dalam negeri. Hasilnya 58% dari responden memilih GOPAY sebagai e-wallet paling familiar bagi mereka, diikuti Ovo sebanyak 29%, Dana 9% dan LinkAja 4% responden.

Untuk peringkat selanjutnya e-wallet dengan pengguna aktif bulanan terbanyak dari posisi 6 hingga ke 10 untuk periode Q2 2020 diduduki oleh Go Mobile by CIMB, i.saku, JakOne Mobile- Bank DKI, Doku, Sakuku, dan Paytren.

2. GOPAY E-wallet Dengan Pengguna Aktif Bulanan Terbanyak

GOPAY merupakan salah satu layanan yang tersedia di supper app Gojek berhasil menduduki peringkat pertama sebagai e-wallet dengan jumlah pengguna aktif bulanan terbanyak sejak Q2 2019 hingga Q2 2020. Walaupun data yang tersedia merupakan akumulasi dari pengguna aplikasi Gojek secara keseluruhan untuk total download aplikasi GOJEK juga masih menduduki peringkat teratas dengan aplikasi paling banyak di download baik di platform Android maupun iOs.

GOPAY juga disebutkan sebagai e-wallet yang akan dipilih pertama kali jika ada new user yang baru akan menggunakan e-wallet untuk bertransaksi. Sebanyak 60% responden menyebutkan mereka menggunakan GOPAY sebagai e-wallet pertama. Selain itu GOPAY juga memiliki organic user terbanyak (54%) dimana walaupun sudah tidak ada promo atau cashback yang ditawarkan user GOPAY masih tetap menggunakan GOPAY sebagai alat transaksi mereka.

3. OVO dan Dana E-Wallet Non-Bank dengan Pengguna Aktif Bulanan Tertinggi

Ovo dan Dana konsisten berada di posisi 3 besar e-wallet dengan pengguna aktif bulanan tertinggi. Dua e-wallet ini merupakan e-wallet non-government yang memiliki tipe servis finansial fokus untuk melakukan transaksi dan pengiriman uang. Lain dengan GOPAY, tergabung dalam satu supper App terdiri dari beragam servis. OVO dan Dana konsisten menduduki peringkat kedua dan ketiga dengan pengguna aktif bulanan terbanyak. Kedua perusahaan ini bisa dijadikan acuan sebagai e-wallet independen yang membantu para non-bankers untuk tetap bisa melakukan transaksi cashless.

Selama periode Q2 2019 hingga Q2 2020 OVO menduduki peringkat kedua dengan pengguna aktif bulanan terbanyak setiap kuartalnya. Diikuti oleh Dana yang juga berhasil dengan konsisten menduduki peringkat ketiga di periode yang sama.

Untuk total download aplikasi terjadi pergantian posisi pada periode Q4 2019 dimana DANA menggantikan OVO di posisi kedua setelah GOPAY namun hal ini hanya terjadi didalam satu kuartal itu saja.

Q2 2020 adalah periode yang penuh tantangan, Ovo menginisiasi beberapa produk untuk mendukung Indonesia dalam pemulihan kondisi ekonomi setelah masa pandemi ini.

CEO OVO, Jason Thompson, CEO OVO menyampaikan bahwa kunci pertumbuhan mereka adalah selalu mempelajari dan mengantisipasi kebutuhan pengguna dan pedagang yang terus berkembang. Dia menambahkan, “Kami telah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berbicara dan belajar dari pedagang di pasar tradisional, memungkinkan OVO memiliki pemahaman yang lebih dekat tentang apa yang mendorong mereka atau bahkan membuat mereka menjadi bagian dari ekosistem digital. Lebih dari sebelumnya, selama pandemi COVID-19, platform fintech harus meningkatkan dan mendukung penerapan transaksi nirsentuh, menjaga keamanan pengguna dan pedagang kami, sambil tetap berusaha memenuhi kebutuhan hidup bersama”

4. E-Wallet BUMN dan E-Wallet Milik Swasta

LinkAja sebagai satu satunya e-wallet milik BUMN (Badan Usaha Milik Negara) memiliki ranking statis sejak Q2 2019 hingga Q2 2020. Baik untuk pengguna aktif bulanan maupun total download aplikasi di Android dan iOS.

Dilansir dari CNBC Indonesia, pengguna LinkAja didominasi di luar Jakarta, LinkAja memiliki hampir 50 juta pengguna yang tersebar di lebih dari 90% wilayah di seluruh Indonesia. Sebanyak 83% pengguna LinkAja tersebar di luar Jakarta, dengan 40% pengguna di antaranya berada di luar pulau Jawa.

LinkAja juga sejak kehadirannya sudah memiliki pengguna tetap karena LinkAja merupakan gabungan dari 4 e-wallet berbasis bank yang kepopulerannya sudah cukup mafhum di Indonesia.

Data yang iPrice dan App Annie dapatkan menunjukan sebuah keunikan dimana e-wallet milik swasta justru memiliki lonjakan fluktuatif pengguna aktif bulanan dalam setahun. Terutama yang berada di posisi 5 hingga 10. Kesempatan untuk terus berkembang dan berinovasi masih terbuka lebar mengingat masih tingginya akuisisi pengguna untuk e-wallet selain GOPAY, Ovo, Dana dan LinkAja.

5. Jakone Mobile Bank DKI, E-Wallet Bank Ibu Kota dengan Pengguna Aktif Bulanan yang Naik Empat Peringkat

JakOne Mobile Bank DKI merupakan e-wallet berbasis Bank. JakOne Mobile dapat dipergunakan baik oleh nasabah yang sudah memiliki rekening tabungan Bank DKI, ataupun calon nasabah yang belum membuka rekening tabungan. Bank DKI dipilih sebagai bank untuk penyaluran Dana KJP Plus (Kartu Jakarta Pintar), penarikan dana ini bisa dilakukan melalui ATM maupun dengan datang langsung ke kantor Bank DKI terdekat.

Adanya kebijakan bantuan pemerintah mempengaruhi ranking pengguna aktif bulanan JakOne Mobile. Pada Q1 2020 JakOne Mobile menduduki peringkat sembilan namun pada Q2 2020 JakOne mobile naik empat peringkat di posisi kelima. Untuk total download aplikasi, JakOne Mobile juga mengalami peningkatan ranking dari posisi sembilan ke posisi ke tujuh. Hal ini dikarenakan anjuran pemerintah DKI Jakarta untuk menggunakan JakOne Mobile sebagai aplikasi untuk mengecek saldo apakah dana bantuan yang dikirimkan sudah diterima atau belum.

Turut sertanya Bank DKI dalam membantu meringankan beban finansial pelajar di Jakarta menjadikan aplikasi e-wallet JakOne sebagai alternatif transaksi non-tunai bagi penduduk Jakarta. Ini membantu meminimalisir terjadinya kontak fisik penerima bantuan karena mudahnya pengecekan saldo di satu aplikasi JakOne Mobile.

6. Total Sesi Penggunaan Aplikasi Finansial Selama Setahun di Indonesia

Penggunaan aplikasi finansial di Indonesia mengalami peningkatan total sesinya bulan ke bulan. iPrice bersama dengan App Annie melakukan analisis untuk mengetahui seberapa besar peningkatan yang ada dengan membandingkan data Year over Year (YoY). Data didapatkan dengan menganalisa total sesi yang dihabiskan oleh orang indonesia di aplikasi finansial berbasis perangkat Android, hal ini dikarenakan pengguna Android memiliki dominasi yang sangat besar di Indonesia. Data dari StatCounter menyebutkan sekitar 92% dari pengguna smartphone menggunakan perangkat Android.

Analisis sesi pada aplikasi finansial di Indonesia menunjukan adanya peningkatan hingga 70% sejak Juni 2019 hingga Juni 2020. Total sesi pada 2019 untuk penggunaan aplikasi finansial sebanyak 1.67 Miliar meningkat hingga 2.83 Miliar per Juni 2020.

Penggunaan lebih dari satu brand e-wallet di Indonesia bisa dikaitkan dengan peningkatan sesi ini. Di Indonesia majority 47% pengguna e-wallet memiliki 3 atau lebih e-wallet di smartphone mereka. Menurut riset dari Ipsos terhadap 1000 responden, 28% menggunakan 2 e-wallet untuk berbelanja dan 21% responden memiliki hanya satu e-wallet di smartphone mereka.

7. E-Wallet Alternatif Pembayaran saat Berbelanja Online

E-wallet sebagai alternatif pembayaran online menjadi bukti meningkatnya transaksi cashless. Berdasarkan data yang iPrice dan Jakpat kumpulkan 26% dari total 1000 responden menyebutkan mereka memilih untuk menggunakan e-wallet/e-money sebagai metode pembayaran saat melakukan online shopping baik di e-commerce.

Tempo juga menyebutkan kalau transaksi Kartu Debit merosot, dimana pertumbuhannya 4.14% di tahun 2019 sedangkan di tahun sebelumnya bisa sampai hampir 10%. Hal ini sejalan dengan yang Riset iPrice sebelumnya, kurangnya akses rekening bank serta tingginya angka “unbanked” populasi di Indonesia memberikan udara segar bagi perusahaan layanan dompet digital. E-wallet dianggap bisa memberikan kemudahan untuk bertransaksi baik online maupun offline hanya dalam satu platform.

Jason Thompson, CEO OVO, juga secara langsung menyampaikan bahwa transaksi non tunai mendapatkan daya tarik seperti yang ditunjukkan dari pertumbuhan yang signifikan selama periode pandemi. “Bank Indonesia dan regulator lainnya juga mendorong masyarakat untuk melakukan transaksi nontunai agar tidak terjadi transmisi melalui uang kertas. Tidak hanya sebagai payment gateway, e-wallet kini menjadi bagian dari pembayaran e-commerce, Pengiriman Makanan Online, platform Investasi, dan insentif pemerintah, ”kata Thompson.

Dari hasil survei ini iPrice juga menemukan bahwa hanya 3% dari responden yang menggunakan kartu debit sebagai metode pembayaran mereka saat melakukan online shopping. Sedangkan untuk kartu kredit hanya 2% dari responden yang menggunakan metode ini untuk transaksi online saat berbelanja di platform e-commerce.

English Version

1. Local Players Dominate the E-Wallet Competition in Indonesia

Based on a previous study, local players took the top e-wallet rankings in Indonesia. This result can be attributed to the successful promotions and campaigns done by these aforementioned local e-wallet developers, and to the government’s support in enabling Indonesia to become a cashless society.

GOPAY, OVO, Dana, and LinkAja are the top 4 e-wallets with the highest number of active monthly users during the Q2 2019-Q2 2020 period. For the apps with the most downloads, these four players also take the top spot.

In line with the data on the highest monthly active users, Ipsos also conducted a research about the popularity of e-wallet players in Indonesia. The research showed that 58% of respondents chose GOPAY as the most familiar e-wallet, followed by OVO (29%), DANA (9%), and LinkAja (4%).

Furthermore, Go Mobile by CIMB, i.saku, JakOne Mobile- Bank DKI, Doku, Sakaku, and Paytren rank as 6th to 10th e-wallets with the highest monthly active users on Q2 2020.

2. GOPAY is the E-wallet with the highest monthly active users

GOPAY is one of the services available in the Gojek supper app, which snagged the top spot of having the highest number of active monthly users from Q2 2019 to Q2 2020. Although the available data is an accumulation of Gojek app users, the total downloads of GOJEK apps also ranked first when it comes to having the most downloads in both Android and iOS platforms.

GOPAY is also the newbie’s first choice; for first-time e-wallet users, GOPAY is selected as their first choice. 60% of respondents said they used GOPAY as their first e-wallet. In addition, GOPAY also has the most organic users (54%) despite not offering promos or cashbacks to their users.

3. Non-bank E-wallets, Ovo and Dana, Have the Next Highest Monthly Active Users

Ovo and Dana consistently rank in the top 3 e-wallets with the highest monthly active users. These two e-wallets are non-government e-wallets with a financial service that focuses on transactions and fund transfers. Unlike GOPAY, which is incorporated in one supper app that consists of various services, OVO and Dana are independent e-wallets that help non-bankers to have cashless transactions.

During Q2 2019 to Q2 2020, OVO was ranked second with the most monthly active users per quarter. Followed by Dana, which also managed to consistently rank third in the same period.

For the total download of the apps, there was a slight change of ranking in the Q4 2019 period where Dana replaced Ovo as #2 after GOPAY. However, other than this quarter, the rankings have been consistent.

Q2 2020 is challenging period, social distancing and lockdown are implemented in Indonesia to help reduce the spread of the Covid-19. Ovo initiated some products to support Indonesia in managing this pandemic and recovering from it.

Directly commenting on its rapid growth & performance in this study, Jason Thompson, CEO of OVO shared that the key to their growth has always been continuously learning and anticipating user and merchants evolving needs. ​He added ”We have spent hours talking and learning from merchants in traditional markets, enabling OVO to have a closer understanding of what drives them or even discourages them to become part of the digital ecosystem. More than ever, during the COVID-19 pandemic, fintech platform should step up and support the adoption of contactless transactions, keeping our users and merchants safe, while still addressing key life necessities”

4. Government and Non-Government E-wallets

As the only e-wallet owned by BUMN (state-owned enterprise), LinkAja has a static ranking from Q2 2019 to Q2 2020, both for monthly active users and total app downloads in Android and iOS.

CNBC Indonesia reported that LinkAja users are mostly coming from outside Jakarta. It has almost 50 million users spread in more than 90% of the territory throughout Indonesia. Furthermore, 83% of LinkAja users are spread outside Jakarta, with 40% of them outside Java.

LinkAja already has existing users ever since because it is a combination of 4 bank-based e-wallets which are quite well-known in Indonesia.

Our data shows that privately owned e-wallets have a fluctuating surge of monthly active users in a year, especially those in ranks 5 to 10. The opportunity to continue to develop and innovate e-wallets is wide open, considering the high acquisition of users for e-wallets other than GOPAY, Ovo, Dana, and LinkAja.

5. JakOne Mobile Bank DKI, a Capital Bank E-Wallet, Climbed Up Four Ranks in Highest Monthly Active Users

JakOne Mobile Bank DKI is a bank-based e-wallet and it can be used either by customers who already have a Bank DKI savings account or prospective customers who have not yet opened a savings account. Bank DKI was chosen as the bank for KJP Plus Funding (Jakarta Smart Card), and withdrawing these funds can be done through an ATM or by coming directly to the nearest DKI Bank office.

The existence of a government assistance policy affects the ranking of JakOne Mobile's monthly active users. In Q1 2020, JakOne Mobile was ranked ninth, but in Q2 2020, it climbed up four ranks, positioning it as the fifth e-wallet with the most monthly active users. For total app downloads, it also increased in ranking, from ninth to seventh. The increase in rankings can be attributed to the recommendation of the DKI Jakarta government to use JakOne Mobile’s app to monitor the receipt of government-aided funds..

The participation of Bank DKI in helping to ease the financial burden on students in Jakarta makes the JakOne e-wallet app an alternative to cash transactions for Jakarta residents. This helps minimize the physical contact of beneficiaries due to the ease of checking balances in one mobile app.

6. Total Annual Financial App Sessions in Indonesia

The use of financial apps in Indonesia has increased in total sessions month after month. iPrice, together with App Annie, analyzed to find out how big the improvement was by comparing Year over Year (YoY) data. Data is obtained by analyzing the total sessions spent by Indonesians on financial apps based on Android devices because Android users have a very large dominance in Indonesia. Data from StatCounter said that about 92% of smartphone users use Android devices.

Indonesian tend to use mobile more compared to desktop when they access their internet. Data from Statcounter showed that in May 2020 64.16% Indonesian used mobile, meanwhile only 35.15% using desktop to access their internet during the lockdown period.

The analysis of sessions on financial apps in Indonesia showed an increase of up to 70% from June 2019 to June 2020. The total session in 2019 was 1.67 billion, increasing to 2.83 billion as of June 2020. The growth kept increasing since January 2020, total of 2.53 billion sessions in that month, meanwhile in April there was a slight decrease on the session from 2.65 billion in March to 2.47 billion by April 2020.

The use of more than one e-wallet brand in Indonesia can be attributed to the increase in these sessions. In Indonesia, 47% of e-wallet users have 3 or more e-wallets on their smartphones. According to research from Ipsos,28%, among 1,000 respondents,use 2 e-wallets to shop, and only 21%have only one e-wallet on their smartphones.

7. E-Wallet As a Payment Method When Shopping Online

E-wallet as an alternative online payment is evidence of increased cashless transactions. Based on data that iPrice and Jakpat collected, 26% of the 1,000 respondents said they chose to use e-wallets/e-money as a payment method when shopping online. This will give a lot of room for e-wallet in Indonesia to grow even more.

Likewise, Tempo mentioned that debit card transactions have a declined percentage, where the growth was 4.14% in 2019, while in the previous year, it almost reached 10%. This is in line with a previous iPrice research where it shed light on the lack of access to bank accounts and the high number of "unbanked" population in Indonesia, which proved the country’s potential demand for digital wallet service companies. E-wallet is now able to provide convenience in both online and offline transactions through only one platform in Indonesia.

Jason Thompson, CEO of OVO, also directly shared that cashless transactions are gaining traction as shown from their significant growth during the pandemic period. “Bank Indonesia and other regulators are also encouraging the public to conduct non-cash transactions to prevent transmission through banknotes. Not only as payment gateway e-wallet is now as part of e-commerce payment, Online Food Delivery, Investment platform and government incentive” said Thompson.

From the result of the recent survey, iPrice also found that only 3% of respondents use debit cards as their payment method when shopping online and only 2% of respondents use credit cards.

About App Annie

App Annie is the industry's most trusted mobile data and analytics platform. App Annie's mission to help customers create winning mobile experiences and achieve excellence. The company created the mobile app data market and is committed to delivering the industry’s most complete mobile performance offering. More than 1,100 enterprise clients and 1 million registered users across the globe and spanning all industries rely on App Annie as the standard to revolutionize their mobile business. The company is headquartered in San Francisco with 12 offices worldwide.

iPrice Group

iPrice Group is a meta-search website operating in seven countries across South East Asia namely; Malaysia, Singapore, Indonesia, Thailand, Philippines, Vietnam, and Hong Kong.

Currently, iPrice compares and catalogues more than 500 million products and receives about 20 million monthly visits across the region.

Komentar Pengguna